Vacuum brewed coffee was initially invented in the 1840s in France, and became very popular in the United States around the middle part of the 20th century. Companies like Silex, Sunbeam, Westinghouse, General Electric, Cory and others had entire lines of vacuum brewers for sale during this period. This brewing method undeniably produced the best tasting filter coffee, but it lost favor in the convenience-obsessed America of the 1950 and beyond. While other parts of the world continued to use vacuum brewers (most notably Europe and Japan), in the U.S., percolation, auto drip and instant coffees gradually replaced vacuum brewing use, bringing super convenient (yet also super bad tasting) coffee to the American breakfast table.
Today, quality coffee is making a major comeback in North America, and as a result, people are starting to use vacuum brewers again. The Vacuum Pot technique of brewing coffee at the perfect brewing temperature ensures a perfect cup! Everyone who sees the Vacuum Pot in action is amazed at the process. You will be amazed as well.
April 5, 2010
March 28, 2010
Menikmati OLD TOWN WHITE COFFEE di udara

OldTown White Coffee flying high
By: by Chin Lee Kam (Mon, 16 Mar 2009)
newsdesk@thesundaily.com
AIR TRAVELLERS can now enjoy their favourite cuppa of Ipoh’s most famous white coffee while aboard AirAsia flights from the Kuala Lumpur hub.
The low-cost airline has, since March 1, started inflight service of OldTown White Coffee 3-in-1 Classic blend at RM5 per cup.
He also said that serving the "classic" blend on board is just the beginning because We plan to add two more products – OldTown 3-in-1 White Milk Tea and 3-in-1 White Coffee with Hazelnut."
"Through this collaboration with AirAsia to serve our products in all three of the airline’s business hubs, travellers in Southeast Asia can experience the thick aroma of OldTown White Coffee while flying.
OldTown White Coffee is exported to 15 countries including China, the United Kingdom, Canada, the United States, Japan, Philippines, Indonesia, Thailand, Brunei, Singapore and Papua New Guinea.
OldTown White Coffee started in 1958 when its Hainanese founder in Ipoh devised an ingenious style of roasting coffee beans, much to the delight of coffee connoisseurs in the old town neighbourhood of Ipoh.
OldTown White Coffee is a perfect blend of specially roasted Liberica, Arabica and Robusta beans with small amounts of caramel, moderately roasted in high temperature.
OLD TOWN WHITE COFFEE DAPAT DIBELI ONLINE DI www.coffeeshopz.com
Salam
Coffeeshopz
Labels:
coffeeshopz,
Old town White Coffee
March 25, 2010
Excelso Coffee
Produk biji kopi asli buatan PT Santos Jaya Abadi, Sidoarjo ini dikemas cukup apik dalam wadah nan rapat. Kantong merah bertuliskan "Excelso pure cofee beans" menjadi penanda kopi bubuk ini. Pada bagian depan terdapat lubang angin yang akan mengeluarkan udara dari dalam kantong, sehingga aroma kopi tetap terjaga.
Ada empat jenis kopi yang ditawarkan oleh si produsen: Robusta, Java, Arabica, dan Toraja. Kopi yang masih satu saudara dengan kopi Kapal Api ini selain tersedia dalam model biji yang sudah digiling (bubuk) juga tersedia model biji (belum digiling). Bijinya dipilih dari kebun kopi khusus, sementara pengolahannya dengan cara dipanggang dan diramu secara profesional.
Yang paling saya suka adalah Robusta. Jenis ini paling pas dengan indera pengecap saya. Ada ukuran 100 gr dan 200 gr yang bisa Anda pilih dengan kisaran harga Rp 15.000 - Rp 35.000. Dilihat harganya, kopi ini mungkin ditujukan untuk konsumen kelas menengah.
Ada empat jenis kopi yang ditawarkan oleh si produsen: Robusta, Java, Arabica, dan Toraja. Kopi yang masih satu saudara dengan kopi Kapal Api ini selain tersedia dalam model biji yang sudah digiling (bubuk) juga tersedia model biji (belum digiling). Bijinya dipilih dari kebun kopi khusus, sementara pengolahannya dengan cara dipanggang dan diramu secara profesional.
Yang paling saya suka adalah Robusta. Jenis ini paling pas dengan indera pengecap saya. Ada ukuran 100 gr dan 200 gr yang bisa Anda pilih dengan kisaran harga Rp 15.000 - Rp 35.000. Dilihat harganya, kopi ini mungkin ditujukan untuk konsumen kelas menengah.
resep membuat Kopi Sendiri nan lezat - tanpa sakit perut
Kadang agak segan minum kopi padahal, kopi terutama kopi hitam paling pas dilidah saya.Yang membuat segan adalah efeknya, hampir bisa dipastikan beberapa menit setelah menghabiskan secangkir kopi, pasti perut mules ngga karuan, huh!
Karena penasaran, saya mulai mencari penyebabnya, Why ?
Ketemu sekarang, penyebabnya adalah cara membuatnya yang salah. Kopi yang membuat perut mules biasanya kopi yang diseduh, karena airnya kurang panas membuat kopi tidak terlarut sempurna. Biasanya jika airnya diambil dari dispenser. Ciri-cirinya adalah adanya buih dan ampas kopi yang mengambang.
Oke, we’re go ahead, saya akan berbagi resep rahasia saya untuk membuat secangkir kopi yang mantap, tanpa membuat perut mules.
1. siapkan secangkir air bersih (cangkir dipergunakan sebagai gelas ukur agar airnya tidak kelebihan).
2. Siapkan kopi “Kapal Api Mantap” yang sachet aja, sudah cukup
3. nyalakan api, dan pasang ceret diatasnya
4. hingga air mulai berbuih, kopi siap direbus, tuang sedikit demi sedikit
5. Sambil digoyang-goyang perlahan agar larut sempurna dan bagian bawah tidak gosong
6. jika buih sudah merata dipermukaan air diceret, tuangkan ke dalam cangkir.
7. Kopi siap diminum, eit… tapi tunggulah sekitar 10 menit, sambil baca baca blog ini agar panasnya kopi diterima mulut kita.
Enjoy….
Mukti- from Prayitnomukti.wordpress.com
mampir ya ke www.Coffeeshopz.com
atau Coffee Shopz @ facebook
Thanks
Karena penasaran, saya mulai mencari penyebabnya, Why ?
Ketemu sekarang, penyebabnya adalah cara membuatnya yang salah. Kopi yang membuat perut mules biasanya kopi yang diseduh, karena airnya kurang panas membuat kopi tidak terlarut sempurna. Biasanya jika airnya diambil dari dispenser. Ciri-cirinya adalah adanya buih dan ampas kopi yang mengambang.
Oke, we’re go ahead, saya akan berbagi resep rahasia saya untuk membuat secangkir kopi yang mantap, tanpa membuat perut mules.
1. siapkan secangkir air bersih (cangkir dipergunakan sebagai gelas ukur agar airnya tidak kelebihan).
2. Siapkan kopi “Kapal Api Mantap” yang sachet aja, sudah cukup
3. nyalakan api, dan pasang ceret diatasnya
4. hingga air mulai berbuih, kopi siap direbus, tuang sedikit demi sedikit
5. Sambil digoyang-goyang perlahan agar larut sempurna dan bagian bawah tidak gosong
6. jika buih sudah merata dipermukaan air diceret, tuangkan ke dalam cangkir.
7. Kopi siap diminum, eit… tapi tunggulah sekitar 10 menit, sambil baca baca blog ini agar panasnya kopi diterima mulut kita.
Enjoy….
Mukti- from Prayitnomukti.wordpress.com
mampir ya ke www.Coffeeshopz.com
atau Coffee Shopz @ facebook
Thanks
March 24, 2010
Kopi Legendaris Semakin Tua Semakin Mantap - Kopi eva
Kopi Eva, Bijinya Tahan Hingga 10 Tahun
Sejak didirikan tahun 1954 hingga sekarang, R. Mich. Tjiptomartoyo (86) yang biasa dipanggil Pak Cip masih terlibat secara langsung menangani Eva Coffeehouse yang ia dirikan di dataran tinggi Ambarawa, Jawa Tengah. Lulusan sekolah dagang Belanda ini masih tekun melakukan audit keuangan secara manual di belakang meja kasir. Tanpa bantuan kacamata, ia mencatat perubahan harga bahan baku sambil sesekali menyapa pelanggan setianya. Dibantu lima anak perempuannya, ia mengelola warung kopi sejak pukul 06.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Lokasi strategis Eva Coffeehouse yang terletak di jalan raya yang menjadi penghubung Semarang dan Jogjakarta menyebabkan banyak orang yang tengah ada di perjalanan singgah untuk berisitirahat. “Biasanya mereka juga butuh tempat istirahat dan buang air kalau sedang di tengah perjalanan. Makanya kami menyediakan banyak toilet,” kisah Maria Budiastuti (50), generasi kedua kopi Eva.
Strategi itu bisa jadi berhasil, karena hingga kini banyak sekali rombongan turis yang menuju Borobudur, Magelang atau Yogyakarta dari Semarang atau sebaliknya mampir untuk meregangkan otot dan minum kopi. Turis yang datang tak hanya turis domestik. Banyak juga rombongan turis mancanegara yang datang untuk menikmati kopi Eva yang legendaris. Kopi Eva yang diminum panas-panas sangat cocok dengan udara Ambarawa yang dingin. Apalagi dari ruang serbaguna Eva Coffeehouse yang biasa digunakan untuk menyambut tamu rombongan, pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Ambarawa dan kebun kopi milik Cip. Ia pun menyediakan berbagai macam suvenir bagi turis yang ingin membeli buah tangan khas Jawa Tengah.
Kesuksesan kopi Eva, tak lain karena kedekatan Pak Cip dengan beberapa pejabat penting di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, saat ia tergabung dalam Brigade 17. Karena efek kedekatan itu, banyak di antara mereka yang memasok kebutuhan kopi untuk institusi yang dipimpinnya dari kopi Eva.
Sayangnya, setelah pergantian pejabat, tak banyak institusi yang masih membeli kopi darinya. Hanya beberapa pabrik dan perkantoran saja yang masih memesan kopi Eva. Selain itu, Cip tidak mendistribusikan kopi Eva ke luar kota karena alasan biaya. “Terlalu mahal, jadi kami hanya mengirim kalau ada yang memesan atau ke pabrik yang sudah jadi langganan. Lagipula enggak ada resiko kopi enggak laku dan dikembalikan,”.
Kopi Eva, selain dijual dalam bentuk siap minum, juga dijual dalam bentuk bubuk, biji, bahkan sirup. Sirup kopi Eva dikemas dalam botol dan bisa disajikan hangat atau dingin. Setelah dibuka, simpan saja botolnya dalam lemari es. Rahasia kopi Eva ada pada proses pencucian biji dan obat yang digunakan agar biji kopi takkan dimakan serangga meski disimpan hingga 10 tahun.
Hingga sekarang, kopi Eva masih menggunakan biji kopi dari kebunnya sendiri. “Kalau kurang kami beli dari kebun tetangga. Sejauh ini sih selalu kurang,” kata Cip. Selain kopinya yang sudah dikenal hingga mancanegara, andalan mereka adalah Tahu khas kopi Eva dan Gudeg Manggar yang dibuat berdasarkan resep rahasia mendiang sang istri.
Sama seperti kopi-kopi klasik yang lain, Cip mengaku tak banyak keuntungan yang ia dapat. Apalagi, ia hanya mengandalkan penjualan di Eva Coffeehouse. Harga kopi per gelas masih ia jual Rp 5 ribu, sementara kopi bubuk Rp 20 ribu/seperempat kg, dan sirup kopi Rp 25 ribu/botol. Dengan harga semurah itupun masih banyak yang meminta harga kopi tak dinaikkan. Banyak pihak yang mengajak kerjasama ditolaknya untuk menghindari kecurangan bisnis yang berakhir pada kerugian.
Untuk mempertahankan pelanggan, Cip hanya berusaha mempertahankan rasa kopi Eva. “Jadi kalau dulu ada orang waktu kecil dibawa orangtuanya minum kopi Eva, sekarang dia ke sini sudah membawa cucu tapi rasa kopi Eva masih sama”. Lalu bagaimana ia mempertahankan rasa kopi Eva selama puluhan tahun? “Itu rahasia kopi Eva!” ujarnya sambil tertawa.
Dewi Sita/Nova diambil dari tabloidnovadotcom
Sejak didirikan tahun 1954 hingga sekarang, R. Mich. Tjiptomartoyo (86) yang biasa dipanggil Pak Cip masih terlibat secara langsung menangani Eva Coffeehouse yang ia dirikan di dataran tinggi Ambarawa, Jawa Tengah. Lulusan sekolah dagang Belanda ini masih tekun melakukan audit keuangan secara manual di belakang meja kasir. Tanpa bantuan kacamata, ia mencatat perubahan harga bahan baku sambil sesekali menyapa pelanggan setianya. Dibantu lima anak perempuannya, ia mengelola warung kopi sejak pukul 06.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Lokasi strategis Eva Coffeehouse yang terletak di jalan raya yang menjadi penghubung Semarang dan Jogjakarta menyebabkan banyak orang yang tengah ada di perjalanan singgah untuk berisitirahat. “Biasanya mereka juga butuh tempat istirahat dan buang air kalau sedang di tengah perjalanan. Makanya kami menyediakan banyak toilet,” kisah Maria Budiastuti (50), generasi kedua kopi Eva.
Strategi itu bisa jadi berhasil, karena hingga kini banyak sekali rombongan turis yang menuju Borobudur, Magelang atau Yogyakarta dari Semarang atau sebaliknya mampir untuk meregangkan otot dan minum kopi. Turis yang datang tak hanya turis domestik. Banyak juga rombongan turis mancanegara yang datang untuk menikmati kopi Eva yang legendaris. Kopi Eva yang diminum panas-panas sangat cocok dengan udara Ambarawa yang dingin. Apalagi dari ruang serbaguna Eva Coffeehouse yang biasa digunakan untuk menyambut tamu rombongan, pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Ambarawa dan kebun kopi milik Cip. Ia pun menyediakan berbagai macam suvenir bagi turis yang ingin membeli buah tangan khas Jawa Tengah.
Kesuksesan kopi Eva, tak lain karena kedekatan Pak Cip dengan beberapa pejabat penting di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, saat ia tergabung dalam Brigade 17. Karena efek kedekatan itu, banyak di antara mereka yang memasok kebutuhan kopi untuk institusi yang dipimpinnya dari kopi Eva.
Sayangnya, setelah pergantian pejabat, tak banyak institusi yang masih membeli kopi darinya. Hanya beberapa pabrik dan perkantoran saja yang masih memesan kopi Eva. Selain itu, Cip tidak mendistribusikan kopi Eva ke luar kota karena alasan biaya. “Terlalu mahal, jadi kami hanya mengirim kalau ada yang memesan atau ke pabrik yang sudah jadi langganan. Lagipula enggak ada resiko kopi enggak laku dan dikembalikan,”.
Kopi Eva, selain dijual dalam bentuk siap minum, juga dijual dalam bentuk bubuk, biji, bahkan sirup. Sirup kopi Eva dikemas dalam botol dan bisa disajikan hangat atau dingin. Setelah dibuka, simpan saja botolnya dalam lemari es. Rahasia kopi Eva ada pada proses pencucian biji dan obat yang digunakan agar biji kopi takkan dimakan serangga meski disimpan hingga 10 tahun.
Hingga sekarang, kopi Eva masih menggunakan biji kopi dari kebunnya sendiri. “Kalau kurang kami beli dari kebun tetangga. Sejauh ini sih selalu kurang,” kata Cip. Selain kopinya yang sudah dikenal hingga mancanegara, andalan mereka adalah Tahu khas kopi Eva dan Gudeg Manggar yang dibuat berdasarkan resep rahasia mendiang sang istri.
Sama seperti kopi-kopi klasik yang lain, Cip mengaku tak banyak keuntungan yang ia dapat. Apalagi, ia hanya mengandalkan penjualan di Eva Coffeehouse. Harga kopi per gelas masih ia jual Rp 5 ribu, sementara kopi bubuk Rp 20 ribu/seperempat kg, dan sirup kopi Rp 25 ribu/botol. Dengan harga semurah itupun masih banyak yang meminta harga kopi tak dinaikkan. Banyak pihak yang mengajak kerjasama ditolaknya untuk menghindari kecurangan bisnis yang berakhir pada kerugian.
Untuk mempertahankan pelanggan, Cip hanya berusaha mempertahankan rasa kopi Eva. “Jadi kalau dulu ada orang waktu kecil dibawa orangtuanya minum kopi Eva, sekarang dia ke sini sudah membawa cucu tapi rasa kopi Eva masih sama”. Lalu bagaimana ia mempertahankan rasa kopi Eva selama puluhan tahun? “Itu rahasia kopi Eva!” ujarnya sambil tertawa.
Dewi Sita/Nova diambil dari tabloidnovadotcom
Subscribe to:
Posts (Atom)
April 5, 2010
Siphon Filter Coffee Maker
Vacuum brewed coffee was initially invented in the 1840s in France, and became very popular in the United States around the middle part of the 20th century. Companies like Silex, Sunbeam, Westinghouse, General Electric, Cory and others had entire lines of vacuum brewers for sale during this period. This brewing method undeniably produced the best tasting filter coffee, but it lost favor in the convenience-obsessed America of the 1950 and beyond. While other parts of the world continued to use vacuum brewers (most notably Europe and Japan), in the U.S., percolation, auto drip and instant coffees gradually replaced vacuum brewing use, bringing super convenient (yet also super bad tasting) coffee to the American breakfast table.
Today, quality coffee is making a major comeback in North America, and as a result, people are starting to use vacuum brewers again. The Vacuum Pot technique of brewing coffee at the perfect brewing temperature ensures a perfect cup! Everyone who sees the Vacuum Pot in action is amazed at the process. You will be amazed as well.
Today, quality coffee is making a major comeback in North America, and as a result, people are starting to use vacuum brewers again. The Vacuum Pot technique of brewing coffee at the perfect brewing temperature ensures a perfect cup! Everyone who sees the Vacuum Pot in action is amazed at the process. You will be amazed as well.
March 28, 2010
Menikmati OLD TOWN WHITE COFFEE di udara

OldTown White Coffee flying high
By: by Chin Lee Kam (Mon, 16 Mar 2009)
newsdesk@thesundaily.com
AIR TRAVELLERS can now enjoy their favourite cuppa of Ipoh’s most famous white coffee while aboard AirAsia flights from the Kuala Lumpur hub.
The low-cost airline has, since March 1, started inflight service of OldTown White Coffee 3-in-1 Classic blend at RM5 per cup.
He also said that serving the "classic" blend on board is just the beginning because We plan to add two more products – OldTown 3-in-1 White Milk Tea and 3-in-1 White Coffee with Hazelnut."
"Through this collaboration with AirAsia to serve our products in all three of the airline’s business hubs, travellers in Southeast Asia can experience the thick aroma of OldTown White Coffee while flying.
OldTown White Coffee is exported to 15 countries including China, the United Kingdom, Canada, the United States, Japan, Philippines, Indonesia, Thailand, Brunei, Singapore and Papua New Guinea.
OldTown White Coffee started in 1958 when its Hainanese founder in Ipoh devised an ingenious style of roasting coffee beans, much to the delight of coffee connoisseurs in the old town neighbourhood of Ipoh.
OldTown White Coffee is a perfect blend of specially roasted Liberica, Arabica and Robusta beans with small amounts of caramel, moderately roasted in high temperature.
OLD TOWN WHITE COFFEE DAPAT DIBELI ONLINE DI www.coffeeshopz.com
Salam
Coffeeshopz
March 25, 2010
Excelso Coffee
Produk biji kopi asli buatan PT Santos Jaya Abadi, Sidoarjo ini dikemas cukup apik dalam wadah nan rapat. Kantong merah bertuliskan "Excelso pure cofee beans" menjadi penanda kopi bubuk ini. Pada bagian depan terdapat lubang angin yang akan mengeluarkan udara dari dalam kantong, sehingga aroma kopi tetap terjaga.
Ada empat jenis kopi yang ditawarkan oleh si produsen: Robusta, Java, Arabica, dan Toraja. Kopi yang masih satu saudara dengan kopi Kapal Api ini selain tersedia dalam model biji yang sudah digiling (bubuk) juga tersedia model biji (belum digiling). Bijinya dipilih dari kebun kopi khusus, sementara pengolahannya dengan cara dipanggang dan diramu secara profesional.
Yang paling saya suka adalah Robusta. Jenis ini paling pas dengan indera pengecap saya. Ada ukuran 100 gr dan 200 gr yang bisa Anda pilih dengan kisaran harga Rp 15.000 - Rp 35.000. Dilihat harganya, kopi ini mungkin ditujukan untuk konsumen kelas menengah.
Ada empat jenis kopi yang ditawarkan oleh si produsen: Robusta, Java, Arabica, dan Toraja. Kopi yang masih satu saudara dengan kopi Kapal Api ini selain tersedia dalam model biji yang sudah digiling (bubuk) juga tersedia model biji (belum digiling). Bijinya dipilih dari kebun kopi khusus, sementara pengolahannya dengan cara dipanggang dan diramu secara profesional.
Yang paling saya suka adalah Robusta. Jenis ini paling pas dengan indera pengecap saya. Ada ukuran 100 gr dan 200 gr yang bisa Anda pilih dengan kisaran harga Rp 15.000 - Rp 35.000. Dilihat harganya, kopi ini mungkin ditujukan untuk konsumen kelas menengah.
resep membuat Kopi Sendiri nan lezat - tanpa sakit perut
Kadang agak segan minum kopi padahal, kopi terutama kopi hitam paling pas dilidah saya.Yang membuat segan adalah efeknya, hampir bisa dipastikan beberapa menit setelah menghabiskan secangkir kopi, pasti perut mules ngga karuan, huh!
Karena penasaran, saya mulai mencari penyebabnya, Why ?
Ketemu sekarang, penyebabnya adalah cara membuatnya yang salah. Kopi yang membuat perut mules biasanya kopi yang diseduh, karena airnya kurang panas membuat kopi tidak terlarut sempurna. Biasanya jika airnya diambil dari dispenser. Ciri-cirinya adalah adanya buih dan ampas kopi yang mengambang.
Oke, we’re go ahead, saya akan berbagi resep rahasia saya untuk membuat secangkir kopi yang mantap, tanpa membuat perut mules.
1. siapkan secangkir air bersih (cangkir dipergunakan sebagai gelas ukur agar airnya tidak kelebihan).
2. Siapkan kopi “Kapal Api Mantap” yang sachet aja, sudah cukup
3. nyalakan api, dan pasang ceret diatasnya
4. hingga air mulai berbuih, kopi siap direbus, tuang sedikit demi sedikit
5. Sambil digoyang-goyang perlahan agar larut sempurna dan bagian bawah tidak gosong
6. jika buih sudah merata dipermukaan air diceret, tuangkan ke dalam cangkir.
7. Kopi siap diminum, eit… tapi tunggulah sekitar 10 menit, sambil baca baca blog ini agar panasnya kopi diterima mulut kita.
Enjoy….
Mukti- from Prayitnomukti.wordpress.com
mampir ya ke www.Coffeeshopz.com
atau Coffee Shopz @ facebook
Thanks
Karena penasaran, saya mulai mencari penyebabnya, Why ?
Ketemu sekarang, penyebabnya adalah cara membuatnya yang salah. Kopi yang membuat perut mules biasanya kopi yang diseduh, karena airnya kurang panas membuat kopi tidak terlarut sempurna. Biasanya jika airnya diambil dari dispenser. Ciri-cirinya adalah adanya buih dan ampas kopi yang mengambang.
Oke, we’re go ahead, saya akan berbagi resep rahasia saya untuk membuat secangkir kopi yang mantap, tanpa membuat perut mules.
1. siapkan secangkir air bersih (cangkir dipergunakan sebagai gelas ukur agar airnya tidak kelebihan).
2. Siapkan kopi “Kapal Api Mantap” yang sachet aja, sudah cukup
3. nyalakan api, dan pasang ceret diatasnya
4. hingga air mulai berbuih, kopi siap direbus, tuang sedikit demi sedikit
5. Sambil digoyang-goyang perlahan agar larut sempurna dan bagian bawah tidak gosong
6. jika buih sudah merata dipermukaan air diceret, tuangkan ke dalam cangkir.
7. Kopi siap diminum, eit… tapi tunggulah sekitar 10 menit, sambil baca baca blog ini agar panasnya kopi diterima mulut kita.
Enjoy….
Mukti- from Prayitnomukti.wordpress.com
mampir ya ke www.Coffeeshopz.com
atau Coffee Shopz @ facebook
Thanks
March 24, 2010
Kopi Legendaris Semakin Tua Semakin Mantap - Kopi eva
Kopi Eva, Bijinya Tahan Hingga 10 Tahun
Sejak didirikan tahun 1954 hingga sekarang, R. Mich. Tjiptomartoyo (86) yang biasa dipanggil Pak Cip masih terlibat secara langsung menangani Eva Coffeehouse yang ia dirikan di dataran tinggi Ambarawa, Jawa Tengah. Lulusan sekolah dagang Belanda ini masih tekun melakukan audit keuangan secara manual di belakang meja kasir. Tanpa bantuan kacamata, ia mencatat perubahan harga bahan baku sambil sesekali menyapa pelanggan setianya. Dibantu lima anak perempuannya, ia mengelola warung kopi sejak pukul 06.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Lokasi strategis Eva Coffeehouse yang terletak di jalan raya yang menjadi penghubung Semarang dan Jogjakarta menyebabkan banyak orang yang tengah ada di perjalanan singgah untuk berisitirahat. “Biasanya mereka juga butuh tempat istirahat dan buang air kalau sedang di tengah perjalanan. Makanya kami menyediakan banyak toilet,” kisah Maria Budiastuti (50), generasi kedua kopi Eva.
Strategi itu bisa jadi berhasil, karena hingga kini banyak sekali rombongan turis yang menuju Borobudur, Magelang atau Yogyakarta dari Semarang atau sebaliknya mampir untuk meregangkan otot dan minum kopi. Turis yang datang tak hanya turis domestik. Banyak juga rombongan turis mancanegara yang datang untuk menikmati kopi Eva yang legendaris. Kopi Eva yang diminum panas-panas sangat cocok dengan udara Ambarawa yang dingin. Apalagi dari ruang serbaguna Eva Coffeehouse yang biasa digunakan untuk menyambut tamu rombongan, pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Ambarawa dan kebun kopi milik Cip. Ia pun menyediakan berbagai macam suvenir bagi turis yang ingin membeli buah tangan khas Jawa Tengah.
Kesuksesan kopi Eva, tak lain karena kedekatan Pak Cip dengan beberapa pejabat penting di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, saat ia tergabung dalam Brigade 17. Karena efek kedekatan itu, banyak di antara mereka yang memasok kebutuhan kopi untuk institusi yang dipimpinnya dari kopi Eva.
Sayangnya, setelah pergantian pejabat, tak banyak institusi yang masih membeli kopi darinya. Hanya beberapa pabrik dan perkantoran saja yang masih memesan kopi Eva. Selain itu, Cip tidak mendistribusikan kopi Eva ke luar kota karena alasan biaya. “Terlalu mahal, jadi kami hanya mengirim kalau ada yang memesan atau ke pabrik yang sudah jadi langganan. Lagipula enggak ada resiko kopi enggak laku dan dikembalikan,”.
Kopi Eva, selain dijual dalam bentuk siap minum, juga dijual dalam bentuk bubuk, biji, bahkan sirup. Sirup kopi Eva dikemas dalam botol dan bisa disajikan hangat atau dingin. Setelah dibuka, simpan saja botolnya dalam lemari es. Rahasia kopi Eva ada pada proses pencucian biji dan obat yang digunakan agar biji kopi takkan dimakan serangga meski disimpan hingga 10 tahun.
Hingga sekarang, kopi Eva masih menggunakan biji kopi dari kebunnya sendiri. “Kalau kurang kami beli dari kebun tetangga. Sejauh ini sih selalu kurang,” kata Cip. Selain kopinya yang sudah dikenal hingga mancanegara, andalan mereka adalah Tahu khas kopi Eva dan Gudeg Manggar yang dibuat berdasarkan resep rahasia mendiang sang istri.
Sama seperti kopi-kopi klasik yang lain, Cip mengaku tak banyak keuntungan yang ia dapat. Apalagi, ia hanya mengandalkan penjualan di Eva Coffeehouse. Harga kopi per gelas masih ia jual Rp 5 ribu, sementara kopi bubuk Rp 20 ribu/seperempat kg, dan sirup kopi Rp 25 ribu/botol. Dengan harga semurah itupun masih banyak yang meminta harga kopi tak dinaikkan. Banyak pihak yang mengajak kerjasama ditolaknya untuk menghindari kecurangan bisnis yang berakhir pada kerugian.
Untuk mempertahankan pelanggan, Cip hanya berusaha mempertahankan rasa kopi Eva. “Jadi kalau dulu ada orang waktu kecil dibawa orangtuanya minum kopi Eva, sekarang dia ke sini sudah membawa cucu tapi rasa kopi Eva masih sama”. Lalu bagaimana ia mempertahankan rasa kopi Eva selama puluhan tahun? “Itu rahasia kopi Eva!” ujarnya sambil tertawa.
Dewi Sita/Nova diambil dari tabloidnovadotcom
Sejak didirikan tahun 1954 hingga sekarang, R. Mich. Tjiptomartoyo (86) yang biasa dipanggil Pak Cip masih terlibat secara langsung menangani Eva Coffeehouse yang ia dirikan di dataran tinggi Ambarawa, Jawa Tengah. Lulusan sekolah dagang Belanda ini masih tekun melakukan audit keuangan secara manual di belakang meja kasir. Tanpa bantuan kacamata, ia mencatat perubahan harga bahan baku sambil sesekali menyapa pelanggan setianya. Dibantu lima anak perempuannya, ia mengelola warung kopi sejak pukul 06.00 WIB hingga 21.00 WIB.
Lokasi strategis Eva Coffeehouse yang terletak di jalan raya yang menjadi penghubung Semarang dan Jogjakarta menyebabkan banyak orang yang tengah ada di perjalanan singgah untuk berisitirahat. “Biasanya mereka juga butuh tempat istirahat dan buang air kalau sedang di tengah perjalanan. Makanya kami menyediakan banyak toilet,” kisah Maria Budiastuti (50), generasi kedua kopi Eva.
Strategi itu bisa jadi berhasil, karena hingga kini banyak sekali rombongan turis yang menuju Borobudur, Magelang atau Yogyakarta dari Semarang atau sebaliknya mampir untuk meregangkan otot dan minum kopi. Turis yang datang tak hanya turis domestik. Banyak juga rombongan turis mancanegara yang datang untuk menikmati kopi Eva yang legendaris. Kopi Eva yang diminum panas-panas sangat cocok dengan udara Ambarawa yang dingin. Apalagi dari ruang serbaguna Eva Coffeehouse yang biasa digunakan untuk menyambut tamu rombongan, pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Ambarawa dan kebun kopi milik Cip. Ia pun menyediakan berbagai macam suvenir bagi turis yang ingin membeli buah tangan khas Jawa Tengah.
Kesuksesan kopi Eva, tak lain karena kedekatan Pak Cip dengan beberapa pejabat penting di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, saat ia tergabung dalam Brigade 17. Karena efek kedekatan itu, banyak di antara mereka yang memasok kebutuhan kopi untuk institusi yang dipimpinnya dari kopi Eva.
Sayangnya, setelah pergantian pejabat, tak banyak institusi yang masih membeli kopi darinya. Hanya beberapa pabrik dan perkantoran saja yang masih memesan kopi Eva. Selain itu, Cip tidak mendistribusikan kopi Eva ke luar kota karena alasan biaya. “Terlalu mahal, jadi kami hanya mengirim kalau ada yang memesan atau ke pabrik yang sudah jadi langganan. Lagipula enggak ada resiko kopi enggak laku dan dikembalikan,”.
Kopi Eva, selain dijual dalam bentuk siap minum, juga dijual dalam bentuk bubuk, biji, bahkan sirup. Sirup kopi Eva dikemas dalam botol dan bisa disajikan hangat atau dingin. Setelah dibuka, simpan saja botolnya dalam lemari es. Rahasia kopi Eva ada pada proses pencucian biji dan obat yang digunakan agar biji kopi takkan dimakan serangga meski disimpan hingga 10 tahun.
Hingga sekarang, kopi Eva masih menggunakan biji kopi dari kebunnya sendiri. “Kalau kurang kami beli dari kebun tetangga. Sejauh ini sih selalu kurang,” kata Cip. Selain kopinya yang sudah dikenal hingga mancanegara, andalan mereka adalah Tahu khas kopi Eva dan Gudeg Manggar yang dibuat berdasarkan resep rahasia mendiang sang istri.
Sama seperti kopi-kopi klasik yang lain, Cip mengaku tak banyak keuntungan yang ia dapat. Apalagi, ia hanya mengandalkan penjualan di Eva Coffeehouse. Harga kopi per gelas masih ia jual Rp 5 ribu, sementara kopi bubuk Rp 20 ribu/seperempat kg, dan sirup kopi Rp 25 ribu/botol. Dengan harga semurah itupun masih banyak yang meminta harga kopi tak dinaikkan. Banyak pihak yang mengajak kerjasama ditolaknya untuk menghindari kecurangan bisnis yang berakhir pada kerugian.
Untuk mempertahankan pelanggan, Cip hanya berusaha mempertahankan rasa kopi Eva. “Jadi kalau dulu ada orang waktu kecil dibawa orangtuanya minum kopi Eva, sekarang dia ke sini sudah membawa cucu tapi rasa kopi Eva masih sama”. Lalu bagaimana ia mempertahankan rasa kopi Eva selama puluhan tahun? “Itu rahasia kopi Eva!” ujarnya sambil tertawa.
Dewi Sita/Nova diambil dari tabloidnovadotcom
Subscribe to:
Posts (Atom)